Tim Jurnalis Tour Asbab Bertemu Pihan Botutihe, Syahrin Botutihe Sampai Mengenang Alm Medi Botutihe Mantan Walikota Gorontalo dan Sultan Botutihe
Gorontalo, Sinarpost.id Berikut ini Laporan seputar kegiatan Tim Jurnalistour Wartawan Pengeliling Indonesia Dengan Motor Honda Revo Risman Katili dan istrinya Ummu Mardiyah utusan Media Nasional Online Sinar Post NKRI Demi untuk melaksanakan tugas Kepentingan Syiar Dakwah Keliling dari Masjid ke Masjid dari Pelosok ke Pelosok untuk Usuli Usuli, Khususi Ulama, Umara, Pelajar dan jumpa umat islam Silaturrahim, dari berbagau Pelosok Desa sampai perkotaan di Indonesia yang hanya Mengharapkan Ridho Allah Swt.
Berikut Ini Tim Jurnalistour Risman TL Katili Wartawan Pengeliling Indonesia Dengan Motor Revo Melaporkan dari sebuah Pelosok Posisir Pantai Mulai dari Anggerek, Kec Monano, Kec Sumalata Kec Biau dan Kec Tolinggula Kab Gorontalao Utara Sampai Pelosok Desa Wumu Daerah Perbatasan Kec Palele Kab Buol Sulawesi Tengah, Sabtu 25 Juli 2026.
Setelah Tim Jurnalistour selama 40 Hari berada di Kab Gorontalo Utara dan mengunjungi berbagai Pelosok, mendapat ilham Petunjuk menulis sebuah sejarah para Leluhur Wali Wali Allah Para Sultan Kerajaan penyebar Agama islam di Gorontalo.
Tulisan ini tidak ada kepentingan tapi murni hanya demi untuk Syiar Agama islam dan Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang menghargai Sejarah makanya tulisan ini dengan mengangkat sejarah husus Sultan Botutihe yang berawal dari pertemuan Tim Jurnalistour dengan dua orang Tokoh Pendidik Asn kakak Beradik di Kecamatan Tolinggula pada Hari Rabu, 22 Juli 2026 Yaitu bertemu pertama dengan Bapak Pilhan Botutihe S Pd M Pd dikediamanya di jalan Trans Desa Tolinggula Pantai.
Pertemuan Tim Jurnalistour dengan Bapak Pilhan Botutihe tak terduga sedidikitpun dan tak saling kenal waktu itu, hanya mau bertanya Rumah ibu Sartin Ali yang juga Pensiunan Guru Asn terakhir sebagai Pengawas yang sudah saling Komunikasi Via Telphon dengan istri Tim Jurnalistour Ummu Mardiyah dan ternyata ketika itu adalah Bapak Pilhan Botutihe adalah Korwil Dinas Pendidikan Kec Tolinggula sejak Tahun 2023 sampai dengan sekarag.
Pertemuan kedua malamnya dengan Bapak Syahrin Botutihe S Pd Mantan Camat Tolinggula Tahun 2924 yang juga Pensiunan Guru sampai itu, Tim Jurnalistour mengenang Jasa Pengabdian seorang Tokoh PNS Birokrat sejati DR Hc Hi Medi Botutihe SE yang Tim Jurnalistour Kenal sangat baik Hati Mulai dari saat Sekda Kab Gorontalo Pada Tahun 2003 Sd Tahun 2028 bahkan sampai jadi Walikota Gorontalo Dua kali Periode dan anaknya Sila N Botutihe adalah Wanita Karir, Asn Penuh Prestasi ikut jejak Ayahnya yaitu Sila N Botutihe Pernah di percayakan di angkat menjadi Penjabat Bupati Gorontalo Utara Pada Tahun 2024.
Terakhir kesan yang tak akan terlupakan dalam kenangan kita semua terhadap Mantan Wali Kota Gorontalo, Drs Hi Medi Botutihe, yang meninggal dunia, pada Minggu (18/9/2016). Kepergiannya mengisakan kenangan yang sangat indah bagi masyarakat Gorontalo khususnya dalam hal budaya. Sebab Alm Drs Hi Medi Botutihe, selain dikenal sebagai birokrat, Medi Botutihe juga dikenal sebagai tokoh adat yang pernah mendapat pulanga (gelar adat) Tauwa lo Lingguwa Ta Lombuta Tobulita(Sempurna dalam Tahta).
Berikut sekilas sejarah Sultan Botutihe yaitu Sebelum kedatangan bangsa kolonial, Gorontalo merupakan kawasan Indonesia timur yang memiliki dan menyimpan sumber sejarah yang sangat penting dan belum banyak diteliti oleh sejarawan baik lokal maupun nasional. Sumber sejarah yang belum banyak disentuh oleh peneliti antara lain sejarah masuknya agama Islam atau Islamiassi di Gorontalo. Islamisasi ini dalam perspektif sejarah kebudayaan Islam memiliki makna dan arti penting dalam pembentukan pola-pola adat serta budaya dalam masyarakat Gorontalo. Tentu warisan dan peninggalan para leluhur terdahulu memiliki nilai historis sehingga menarik untuk diteliti oelh peneliti sejarah kebudayaan Islam. Informasi tentang masa lampau masyarakat Gorontalo yang dapat dipandang sangat relevan, baik dalam kehidupan masyarakat maupun untuk kepentingan pendidikan adalah informasi tentang Islamisasi Gorontalo pada awal abad ke-16 M. Islamisasi ke Gorontalo dengan latar belakang budayanya memberi corak dan pengaruh yang yang besar pada pola-pola adat istiadat masyarakat Gorontalo yang terkenal sebagai Daerah Adat, Berasas Adat, Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah Al Qur,an.
Termasuk penggerak Penyebar Agama islam di Gorontalo adalah Sultan Botutihe yang merupakan Leluhur Kesultanan Waliyullah sangat Karomah terkenal dengan karismatik, Teguh dan konsisten Sikap Meraih Target hanya Mengharapkan Ridho Allah Swt.
Sultan Botutihe adalah sultan kedua belas Kesultanan islam di Gorontalo yang memimpin wilayah selatan pada abad ke-18 (tahun 1728–1755), dikenal karena memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Biawao-Limba dan memperkuat pertahanan melawan pengaruh kolonial Belanda.Masa Pemerintahan dan Peran Penting Awal Kepemimpinan: Diangkat sebagai Jogugu (perdana menteri/kepala adat) pada tahun 1710 oleh lembaga adat Bantayo Poboide, Perkokoh Uduluwo Limo Lopohalaa sebelum akhirnya naik tahktah menjadi sultan pada tahun 1728.Pemindahan Ibu Kota, Memindahkan pusat kerajaan dari Dungingi (pinggiran Sungai Bolango) ke lokasi strategis di antara Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.Pusat Islam dan Perdagangan: Menjadikan pusat baru tersebut sebagai titik inti penyebaran agama Islam, perdagangan, serta pendidikan yang berdampak luas hingga menyebar (Motololembah) sampai ke wilayah sekitar seperti Sumalata Perbatasan, Buol, Tolitoli, dan Atinggola Bolaang Mongondow.
Kebijakan dan Strategi Menolak Pengaruh Belanda: Memahami niat buruk Belanda yang ingin menempatkan pegawai kolonial di Gorontalo, ia menyusun langkah strategis untuk memperkuat tata kelola aparat pemerintah yang berlandaskan moral Syariat Islam.
Menyatukan Adat dan Syariat: Memperkuat prinsip bahwa adat istiadat setempat harus sejalan dengan ajaran Islam sesungguhnya (adat bersendikan syarak, dan Syarak Bersendikan Kitabbullah Al Qur,an.).
SULTAN BOTUTIHE
(Raja Gorontalo periode 1720 – 1755) Botutihe naik tahta menjadi raja Gorontalo menggantikan Raja Piola pada tahun 1720. Beliau memulai karir sebagai Khatibidaa, kemudian jogugu dan pada akhirnya menjadi Raja.
Sultan Botutihe berhasil membangun dan menata bandar Gorontalo berbasis perencanaan kota sehingga pembangunannya berkembang dengan pesat. Beliau mendirikan pusat pemerintahan (balato), pelabuhan dan pasar, mengatur pemukiman dan komplek pekuburan, membangun jalan, jembatan serta saluran air untuk mengairi persawahan. Pelaksanaan pembangunan tersebut berlangsung intensif pada periode tahun 1728 sampai 1739.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Botutihe memindahkan pusat kota kerajaan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Bersamaan dengan pemindahan kota kerajaan tersebut,Sultan Botutihe juga mendirikan Masjid Agung Baiturrahim. Peristiwa tersebut terjadi pada 6 Sya’ban 1140 H atau 19 Maret 1728) M. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari jadi kota Gorontalo sebagimana tertuang pada peraturan daerah tahun 1996.
Sultan Botutihe menduduki tahta sampai berusia lanjut. Setelah wafat, beliau diberi gelar garai "Ta to Mihirabu". Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam membangun kota Gorontalo, Sultan Botutihe termasuk salah satu dari 4 Raja yang mendapat gelar ilomata. Nama sultan Botutihe juga diabadikan oleh pemda kota Gorontalo menjadi salah satu nama jalan. Universitas Negeri Gorontalo membuat lukisan Sultan Botutihe di media kanvas ukuran 86 cm x 86 cm dan dihibahkan ke museum provinsi Gorontalo pada tahun 2016.(Tim Sinar Post NKRI 09)

Posting Komentar