NDELU LALAPRAING MINTA PERHATIAN PEMKAB SUMBA TIMUR TERKAIT PENGGUNAAN AIR IRIGASI EMBUNG HAMANE AGAR TIDAK TERJADI MASAALAH WARGA BEREBUT AIR.
Sumaba Timur, Sinarpost.id
Desa Lailara - Ndelu Lala Praing bersama bersama para petani lainnya warga RT 003/RW 002. Desa Lailara Kecamatan Katala Hamu lingu.. Kabupaten Sumba Timur. Provinsi NTT. Keluhkan persoalan Air irigasi Embung Hamane yang tidak pernah sampai di persawahan milik mereka. Penyebab Air tidak sampai di sawah mereka, karena Air irigasi yang mengarah ke persawahan mereka ditutup pada pintu pembagian Airnya. Adapun pihak yang menutup pintu pembagian Air dimaksud adalah sesama warga petani dalam wilayah irigasi Embung Hamane. Ndelu Lalapraing sebagai tokoh masyarakat yang juga anaknya mengalami kekeringan persawahan, dengan tegas menyebut nama-nama pelaku yang sering menutup pintu pembagian Air irigasi. Adapun pelaku yang merusak perpipaan dan menutup pintu pembagian. Air, adalah (Leo bersama anak-anaknya, Yunus, Iran, Angki Lalapraing, Tinus dan kawan kawannya).
Perbuatan mereka menurut Ndelu Lalapraing yang telah merugikan petani lainnya, bahkan menurut Ndelu Ia berulangkali mendapati para pelaku merusak perpipaan dan menutup jalur Air yang mengarah ke sawah petani lainnya. Seperti Natan Katanga Merang, bibit padi yang siap untuk ditanam, mubasir karena sawahnya mengalami kekeringan Air dan tidak dapat diolah. Air irigasi yang biasa lancar di sawah mereka, kini telah macet. Karena pintu pembagian Air irigasi dan perpipaan yang mengarah ke sawah mereka ditutup oleh (Leo bersama anak-anaknya, Yunus, Iran, Angki Lalapraing, Tinus dan kawan kawannya).
Perlu adanya perhatian Bupati Sumba Timur, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Camat Kecamatan Katala Hamulingu dan Kepala desa, desa Lailara. Agar perlu turun lokasi untuk menyaksikan langsung persoalan yang dialami masyarakat tani tentang kekeringan Air disawah mereka. Irigasi Embung Hamane bukan untuk segelintir orang melainkan untuk semua masyarakat tani diwilayah tersebut. Masyarakat tani harus mendapat hak yang sama dalam pemenuhan kebutuhan Air di persawahan nya. Karena tujuan pemerintah membangun embung Hamene dan irigasnyai adalah untuk kepentingan seluruh masyarakat tani yang memiliki persawahan dalam jangkauan irigasi dan embung dimaksud.
Ndelu Lalapraing bersama petani lainnya yang sawahnya menjadi korban tidak kebagian Air irigasi Embung Hamane, menjelaskan sejak embung dan irigasi Embung Hamane dibangun diwilayah persawahan tersebut. Mereka selalu mengalami gagal panen pada setiap musim tanam padi kedua (Musim Kemarau). Penyebabnya krena Air irigasi tidak pernah sampai ke lokasi persawahan mereka. Terjadinya hal ini karena ada beberapa KK yang namanya tersebut diatas, selalu menutup pintu Air yang mengarah ke sawah masyarakat lainnya. Sesungguhnya ada delapan pintu pembagian Air yang tersedia. Baik yang mengarah ke sawah keluarga Ndelu Lalapraing dan petani lainnya dan juga ada pintu Air yang mengarah ke persawahan Leo, Yunus dan kawan kawannya. Namun entah mengapa Leo, Yunus dan kawan-kawannya selalu saja membuat keonaran dengan selalu menutup pintu Air yang mengarah ke sawah keluarga Ndelu Lalapraing dan petani petani lainnya.
" Setiap tahunnya mereka yang panen padi karena Air irigasi dialirkan ke sawah mereka yakni (Leo, Yunus dan kawan-kawannya). Sedangkan kami hanya bisa gigit jari, karena mengalami gagal panen". Ungkap Ndelu Lalapraing.
Menurut Ndelu Lalapraing dan para petani lainnya, setiap musim tanam padi kedua di musim kemarau saluran perpipaan Air yang mengarah ke sawah petani lainnya dilobangi oleh (Leo, Yunus dan kawan-kawannya) dampak dari perbuatan mereka, Air yang seharusnya sampai di sawah Ndelu Lalapraing dan petani lainnya, kini tidak pernah sampai karena Airnya diarahkan ke sawah mereka. Bukan sebatas Air di jalur perpipaan saja yang dikuasai mereka termasuk Air dalam saluran irigasi dialihkan ke persawahan mereka dengan cara menutup pintu Air yang mengarah ke sawah petani lainnya. Parahnya lagi, setelah Air di persawahan mereka (Leo, Yunus dan kawan-kawannya penuh). Air irigasi dimaksud dibuang ke arah kali atau sungai. Hal ini dijelaskan langsung oleh Ndelu Lalapraing dan petani lainnya yang sama menjadi korban tidak kebagian Air irigasi dimaksud.
Menurut Ndelu Lalapraing dan petani lainnya, sudah berulangkali melakukan pendekatan dan bicara baik-baik dengan pihak (Leo bersama anak-anaknya, Yunus, Iran, Angki Lalapraing, Tinus dan kawan-kawannya). agar jangan merusak perpipaan Air dan jangan menutup pintu pembagian Air yang mengarah ke persawahan masyarakat lainnya. Tetapi saran Ndelu Lalapraing dan petani lainnya, tidak di indahkan oleh (Leo, Tinus, Yunus berserta kawan-kawan mereka).
Hal ini jelas sangat merugikan masyarakat tani lainnya karena mengalami gagal panen. Perlu adanya perhatian Bupati Sumba Timur, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Camat Kecamatan Katala Hamulingu dan Kepala desa, desa Lailara. Agar dalam penggunaan Air irigasi Hamane tidak sebatas menguntungkan segelintir orang saja, melainkan masyarakat pemilik persawahan di wilayah irigasi Embung Hamane harus mendapat hak yang sama dalam pemenuhan kebutuhan Air di persawahan nya. Karena tujuan pemerintah membangun embung Hamene dan irigasnyai adalah untuk kepentingan seluruh masyarakat tani yang memiliki persawahan dalam jangkauan irigasi dan embung dimaksud.
Ndelu Lalapraing bersama petani lainnya yang sawahnya menjadi korban tidak kebagian Air irigasi Embung Hamane, menjelaskan sejak embung dan irigasi Embung Hamane dibangun diwilayah persawahan tersebut. Mereka selalu mengalami gagal panen pada setiap musim tanam padi kedua (Musim Kemarau). Penyebabnya krena Air irigasi tidak pernah sampai ke lokasi persawahan mereka. Terjadinya hal ini karena ada beberapa KK yang namanya tersebut diatas, selalu menutup pintu Air yang mengarah ke sawah masyarakat lainnya. Sesungguhnya ada delapan pintu pembagian Air yang tersedia. Baik yang mengarah ke sawah keluarga Ndelu Lalapraing dan petani lainnya dan juga ada pintu Air yang mengarah ke persawahan Leo, Yunus dan kawan kawannya. Namun entah mengapa Leo, Yunus dan kawan-kawannya selalu saja membuat keonaran dengan selalu menutup pintu Air yang mengarah ke sawah keluarga Ndelu Lalapraing dan petani petani lainnya.
" Setiap tahunnya mereka yang panen karena Air irigasi dialirkan ke sawah mereka yakni (Leo, Yunus dan kawan-kawannya). Sedangkan kami hanya bisa gigit jari, karena mengalami gagal panen". Ungkap Ndelu Lalapraing.
Masih menurut Ndelu Lalapraing dan petani-petani lainnya yang sawahnya menjadi korban kekeringan karena tidak kebagian jatah Air irigasi, menjelaskan persoalan Air irigasi Embung Hamane bagi mereka itu merupakan sumber kehidupan dan tempat mereka menggantungkan harapan masa depan untuk anak-anak dan cucu mereka. Karena dari mengolah sawah tersebutlah mereka bisa menghasilkan uang untuk membiayai kebutuhan keluarganya dan menyekolahkan anak-anak mereka. Tetapi karena pintu pembagian Air irigasi ditutup oleh segelintir kelompok orang yang menguasai sepihak irigasi Embung Hamane. Dampaknya saat ini mereka gagal panen, disebabkan persawahan mereka mengalami kekeringan, tanaman padi pada mati karena tidak ada Air yang masuk dipersawahan.
Masih menurut Ndelu Lalapraing dan petani lainnya mereka sudah lelah karena sudah berulang kali menegur dengan cara baik agar Air irigasi dimaksud digunakan secara bersama. Tetapi tidak digubris oleh (Leo, Yunus, Tinus dan kawan-kawannya ). Perbuatan mereka menurut Ndelu Lalapraing sudah berlebihan dan sudah merugikan petani lainnya dalam hal kebutuhan Air untuk mengairi persawahannya.
" Kami sebagai masyarakat kecil memohon pada Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kecamatan Katala hamulingu dan Pemerintah desa Lailara, agar menyikapi keluhan para petani terkait persoalan Air irigasi embung Hamane yang dikuasai sepihak oleh mereka (Leo, Yunus, Tinus dan kawan-kawannya ). Karena dampak dari perbuatan mereka banyak petani yang tanaman padinya mati kekeringan di sawah dan bahkan ada petani bernama Natan Katangamerang bibit padinya yang telah siap ditanam, untuk kebutuhan 2 Hektar Sawah jadi mubasir karena sawahnya kering tidak kebagian Air irigasi." Ungkap Ndelu Lalapraing penuh harap.
Masih menurut Ndelu Lalapraing, pada tanggal 29 September 2026 pagi hari anaknya yang bernama Melki sempat di cegat dan terjadi adu mulut dengan pihak yang menutup pintu pembagian Air irigasi Hamane, hal itu terjadi ketika Melki hendak membuka kembali pintu Air agar Airnya dapat mengalir ke sawahnya. Tetapi karena menjaga keselamatannya, menurut Ndelu Lalapraing, Melki memilih mengalah.
NDELU LALAPRAING DAN PETANI LAINNYA MINTA PEMERINTAH TURUN LOKASI AGAR PENGGUNAAN AIR IRIGASI EMBUNG HAMANE DAPAT DINIKMATI SECARA ADIL DAN MERATA OLEH PARA PETANI.
Ndelu Lalapraing dan petani lainnya memohon agar PemKab Sumba Timur bersama pemerintah Kecamatan dan pemerintah desa Lailara dapat turun lokasi untuk menyelesaikan persoalan kebutuhan Air irigasi Embung Hamane hal ini diperlukan agar tidak terjadi pertikaian diantara masyarakat karena berebut kebutuhan Air dipersawahan Mereka. Ndelu berharap agar perlu ada tindakan tegas dari pemerintah terhadap segelintir orang yang mengklaim sepihak terkait Air irigasi Hamane. Karena Embung Hamane dan irigasinya dibangun bukan untuk kepentingan perorangan, melainkan untuk kepentingan semua masyarakat tani diwilayah tersebut. Ndelu dan petani lainnya berharap agar (Leo, Yunus, Tinus dan kawan-kawannya) yang selama ini menutup pintu pembagian Air irigasi embung Hamane, perlu dipanggil oleh pemerintah agar mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena jika perbuatan mereka terus dibiarkan, menurut Ndelu Lala Praing tidak tertutup kemungkinan bisa terjadi pertikaian dan kekacauan diantara masyarakat tani karena berebutan Air untuk mengairi persawahannya.
(Tim Sinar Pos NKRI/MR).

Posting Komentar